Lahirnya si BunBun

Tidak terasa, kemarin 5 bulan sudah anak saya yang kedua lahir, dan hampir 5 bulan juga saya berusaha menulis cerita kelahirannya tapi selalu aja ada yang menghalangi kalau buka laptop dan mau mulai menulis, entah si baby nangis lah, kakaknya rewel lah, atau malah tergoda browsing dan belanja online (mostly yang terakhir sih hehe). Ok enough with the ‘curcol’ and let’s begin the story of how I met my little Bun.

*mundur 5 bulan sebelumnya*

4 may 2016

Hari ini sudah sekitar 4 kalinya saya kontrol ke RS Bunda ini dalam rangka pemeriksaan mingguan dengan umur kandungan sekitar 38-39 week. Setelah gonta-ganti dokter akhirnya saya dan si papi memutuskan untuk melahirkan di RS ini dibantu dengan dr Chandra. Kenapa akhirnya ke dr. Chandra? karena sebelumnya dengan dr.Mira, tapi ternyata beliau cuti sebulan penuh dan karena due date yang semakin mendekat memaksa saya berganti dokter. Selain itu dr. Chandra ini ternyata juga ramah dan komunikatif maka fix lah kami memilih beliau.

Dari pemeriksaan sejak minggu sebelumnya katanya posisi si baby sudah dibawah tapi belum ada tanda-tanda si baby mau keluar. Rasanya sudah harap-harap cemas aja. Pemeriksaan hari ini pun sama, tinggal menunggu si baby siap keluar. Untuk kondisi baby nya sendiri bagus, posisi bayi, posisi placenta dan air ketuban ok. Hanya ada sedikit concern dari sang dokter, yaitu berat badan si baby. Menurut hasil USG, saat ini berat badannya sudah 3.4 kg padahal kenaikan rata-rata per minggu sudah 200gr. Seandainya minggu depan belum keluar juga maka si baby bisa kegedean dan susah keluarnya sehingga terancam tidak bisa melahirkan secara normal. Atas dasar  itu beliau menawarkan pemberian obat rangsangan untuk merangsang rahim agar berkontraksi. Dokter pun menjelaskan kalau reaksinya bisa hanya dalam hitungan jam dan dari statistiknya tingkat keberhasilan nya hingga 90%, artinya kalau saya minum obat hari itu juga (saya kontrol pagi), sore nya saya sudah bisa melahirkan! Di satu sisi beliau juga bilang kalau ada standard deviasi kurang lebih 200gr dari pemeriksaan USG ini jadi bisa jadi si baby sebenarnya gak sebesar itu. So the choice is ours.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, kami pun memutuskan untuk meminum obat itu keesokan hari nya, berhubung esok hari adalah super long weekend sehingga kami pikir akan lebih mudah karena kami bisa lebih mudah menitipkan si kakak ke tempat eyangnya, in case si baby lahir hari itu juga.

5 may 2016

Saya meminum obat yang diresepkan pagi ini sekitar jam 9. Berusaha tidak memikirkan reaksi nya tapi tetap kepikiran juga plus ada sedikit kecemasan akan seberapa sakit rasa nya karena dari pengalaman melahirkan si kakak yang menggunakan induksi, rasa kontraksinya itu luaar biasaa. Entah karena sugesti atau memang reaksinya, sekitar pukul sebelas saya merasakan sedikit kram di perut. Semakin siang rasa kram pun semakin rutin namun saya masih sedikit ragu untuk ke RS karena intensitas kramnya masih tergolong ringan, saya pun memutuskan ke RS setelah maghrib. Ketika maghrib dan bersiap-siap ke RS pas saat itu juga saya merasa ada sedikit pendarahan dan air ketuban mulai mengalir keluar. This is it, the baby is coming!

Sampai di RS sekitar jam 7, ternyata saya sudah pembukaan 3! sedikit tidak menyangka karena rasanya gak se’heboh’ waktu lahiran kakak dulu. Kurang lebih 3 jam kemudian pembukaan saya pun lengkap dan siap untuk melahirkan. Tepat pukul 21.50 malam bayi kecil saya pun lahir dengan sempurna.

6 may 2016

Setelah IMD, penjahitan dan diwarnai dengan Hb rendah- yang untungnya tidak perlu sampai tranfusi darah, akhirnya saya istirahat di kamar. Akan tetapi saya tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Rasanya masih percaya gak percaya sudah lahiran, ditambah lagi si kecil sedang di’hangatkan’ diruangan lain sehingga belum bisa menggendong dan memeluknya. Pagi hari nya I can finally met her again walaupun harus menunggu agak lama. Rupanya hari ini banyak sekali yang melahirkan karena long weekend sehingga respon para suster agak lama (lesson learned for next baby :D). Though her weight is normal 3.2 kg, but I still feel her very small (udh lama gak gendong bayi baru lahir soalnya :D). It’s time for us to give her a name and we call her BunBun, diambil dari nama depannya.

img_20160506_105134

Tak berapa lama si kakak pun datang bersama eyang. Dokter pun visit dan menyatakan saya bisa segera pulang. Keesokan harinya sesuai perkiraan dokter saya dan si BunBun diperbolehkan pulang. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan babak baru perjalanan saya dengan BunBun pun dimulai..

Bun..semoga kamu tumbuh jadi anak yang penuh rasa syukur dan memberikan kesejukan bagi orang-orang disekitar mu ya naak, sesuai dengan arti nama mu.. amiin….  ❤  🙂

Advertisements

2 thoughts on “Lahirnya si BunBun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s